gelayut mendung hitam di langit
menandakan air akan terjun bebas
entah berapa kubik
wajah-wajah cemas menatap ke langit
ibu rumah tangga yang siap angkat jemuran
pemuda di halte dengan map coklat di dada
tukang ojek di pangkalan
bos besar di kantoran
katanya hujan berkah
namun kenapa banyak yang resah
hanya anak-anak kecil itu yang memandang mendung ceria
hujan turun
anak-anak kecil itu teriak
berterima kasih kepada tuhan yang menurunkan hujan
tangan mereka memegang payung sewaan dari tetangga
ibu rumah tangga
evakuasi jemuran
jemurannya yang tak kering seutuhnya
dan berharap genangan air tak masuk kerumahnya
pemuda di halte
mendekap erat map coklat di dada
meringsek masuk di belakang jubelan orang yang berteduh
tak mau ia berada di depan naungan halte
karena ciprat air hujan dari mobil bmw mewah
bisa buat kotor kemeja putihnya
bekas punya warisan kakaknya
tukang ojek tak kalah resah
di pakai mentel hujan
yang siap selalu di bawah jok motor kredit kesayangannya
semoga jangan lagi dapet sewa penumpang
yang lewati genangan sedengkul seperti kemarin
yang membuat mati motornya
doanya
bos besar itu
bayangkan macet yang parah
males melihat kotor mobilnya yang mewah
padahal baru saja kemarin sore ia cuci
tentu bukan dengan tangan dia
tapi dengan tangan kuli-kuli cuci mobil
air tak henti tercurah
genangan air kian menumpuk
tak mengalir ke got dan lanjut ke sungai
sedang sungai pun tak mampu lagi menampung debit air kiriman
banjir kembali
mengungsi kembali
begitulah tahun berganti
namun tetap saja terjadi
bahkan walu berkali-kali gubernur di ganti
beginilah ibu kota negaraku
yang tak pernah akur dengan berkah
yang tak pernah akur dengan hujan

0 komentar:
Posting Komentar