Rabu, 16 Januari 2013

berbeda

lalat tak sama dengan nyamuk
kuda jelas tak serupa dengan jerapah
cucu seorang pemimpin negara
jelas berbeda 
dengan cucu kuli panggul itu

beda memang kodrat
tak mungkin sama
ada laki-laki ada perempuan
ada langit ada bumi
ada siang pun malam.
semua beda

di pelajaran ppkn
jelas dijelaskan
hak dan kewajiban seseorang itu beda
entah kalimat itu beda karena apa
profesi
jabatan 
strata

cucu anak manusia itu
jadi sorotan karena sakit pencernaan
neneknya sang isteri pemimpin itu
mengantarnya dengan kawalan dan mobil mewah negara
pemburu berita antusias
menunggu dilobi rumah sakit

cucu anak manusia itu
kakek kuli cangkul
mendekap erat punggung kakeknya
panas anak itu sudah sangat
berkaos kutang bersendal jepit beda warna
tergesa ia bawa cucu satu-satunya
yang tak terukur untuk ia cintai.
di puskesmas wajah-wajah memandangnya
dengan tatapan-tatapan yang menghujam
seorang wanita muda menghampirinya
menyuruhnya menunggu
lama menunggu
ketika gilirannya tiba
di tanya dia soal ktp
kakek itu bingung
seumur tinggal di negeri ini
tak pernah ia punya ktp
karena daripada keluar uang untuk buat ktp lebih baik untuk makan
di suruhnya dia oleh dokter untuk kembali nanti
meminta surat keterangan ketua rt
kakek itu memelas air matu turun perlahan di wajah keriputnya
dokter itu tak menghiraukan
dan suruh perawat panggil pasien selanjutnya
kakek itu keluar
mengepal tangannya menahan sedih dan marah
cucunya menahan perih,dari luka bekas kena paku itu
meninggalkan karat di dalamnya.
kakek itu berlari menuju rumah rt
namun tak ada wujud yang tampak itu
tanya sebelah
pak rt sedang nongkrong depan mushola
maen catur sambil ngopi ngerokok
langsung tanpa basa-basi 
kakek itu minta surat keterangan
pak rt memandang rendah
ia kenal kakek ini adalah warganya
ia sangat paham juga kalau kaken ini jelas tak berduit
"maaf pak saya lagi sibuk.besok saja kemarinya "
" tapi pak bapak kan hanya main catur,saya sangat minta tolong pak "
wajah kakek itu memelas bercampur letih
"saya bilang sibuk ya sibuk"jawab pak rt itu
akhirnya kakek itu mengalah
kembali ke istana reotnya
tak jadi obati cucunya
di kompresnya kening cucunya yang meringis menahan sakit
tak lupa ia basuh dengan handuk hangat luka bekas paku di telapak kakinya
coba membersihkan
hidup begitu dingin untuk orang seperti kami
dan begitu hangat untuk orang yang berduit
pukul 5 lewat menjemput maghrib
tubuh cucu kakek itu telah dingin
di jemput pergi meninggalkan hidup yang dingin ini.

0 komentar:

Posting Komentar

Text Widget

Copyright © negeri khayalku tak sepahit negeri kasihku | Powered by Blogger

Design by Anders Noren | Blogger Theme by NewBloggerThemes.com